Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Mei 2017

Dulu Kalah, Namun Sekarang Ini Perbandingan Militer Belanda Dengan Indonesia

Belanda adalah negara penjajah yang luar biasa, dan Indonesia pada saat itu masih sangat lemah. Bukti kalau Belanda pada saat itu jauh lebih kuat adalah berlangsungnya penjajahan yang hingga tiga abad setengah itu. Namun ketika waktu berganti, segalanya pun ikut berubah. Militer Belanda yang dulu bagi Indonesia adalah bak seekor monster, kini tak lebih dari seorang bocah.

Angkatan perang kita saat ini jauh melampui si Negeri Tulip itu. Dari data yang disusun oleh globalfirepower.com (20/03/2017), diketahui bahwa Belanda saat ini kekuatan militernya berada di peringkat 35 dunia, sedangkan militer Indonesia berada di posisi 14 dunia.

Saat ini kita sangat kuat kalau dibandingkan dengan Belanda. Bahkan seumpama kita balik invasi mereka, kemungkinan berhasilnya lebih dari lima puluh persen. Dengan catatan masing-masing negara berdiri di atas kekuatan sendiri, alias satu lawan satu tanpa bantuan pihak negara lain.

Berikut peta kekuatan antara militer Indonesia dengan militer Belanda.

1. Jumlah Tentara

Bukan bermaksud sombong, namun pada kenyataannya kalau soal tentara, kita jauh lebih unggul dari Belanda. Tak hanya dari jumlahnya saja tapi juga kualitas yang dimiliki. Saat ini mereka hanya memiliki 50 ribuan tentara aktif, sedangkan kita memiliki 476 ribu serdadu siap tempur.

2. Kekuatan Darat

Jika di ranah tentara kita menang telak, lalu bagaimana dengan kekuatan darat? Sama sekali tidak ada bedanya, alias kita masih unggul jauh. Hal ini dibuktikan dari koleksi alutsista darat kedua negara, yang begitu jauh terpautnya. Mengenai tank misalnya, Indonesia memiliki sekitar 468 unit, sedangkan Belanda sama sekali tidak punya.

3. Kekuatan Udara

Soal tentara dan kekuatan darat kita menang jauh, namun lain halnya soal kekuatan udara. Di ranah ini siapa sangka kalau Belanda cukup kuat. Hal ini bisa kita lihat dari jumlah alutsista yang dimiliki oleh masing-masing negara. Misalnya pesawat tempur Belanda ternyata lebih unggul dari kita, Belanda punya 66 unit pesawat tempur, sedangkan Indonesia hanya punya 58 unit saja.

4. Kekuatan Laut

Sama halnya seperti kekuatan udara, kekuatan laut kita dan Belanda cukup berimbang, walapun Indonesia bisa dibilang lebih unggul sedikit. Misalnya untuk jumlah kapal korvet, TNI punya 10 unit, sedangkan Belanda 0 alias tidak ada.

Penjajah tak selamanya ketawa, ungkapan ini pas untuk menggambarkan kondisi Belanda sekarang. Dulu mereka bagai monster, tapi saat ini Belanda bukan siapa-siapa, meskipun demikian kita tak boleh terlalu sombong dan congkak.

Selasa, 02 Mei 2017

Sejarah Asal Muasal Nama Labuhanbatu

Dusun Sungai Pinang (dahulu Kampung Labuhanbatu) yang berada tepatnya tidak jauh dari pinggir Sungai Barumun diyakini menyimpan sejarah asal muasal nama Labuhanbatu.

Desa itu dahulu disebut Kampung Labuhanbatu tepatnya di seberang sungai Barumun. Namun kini dusun yang memiliki sejarah bagi nama Kabupaten Labuhanbatu ini kondisinya masih cukup terisolasi tidak seperti perkembangan desa lainnya.
Begitu juga Desa Sei Siarti sebagai pintu masuk menuju Kampung Labuhanbatu masih cukup sederhana.

Uniknya, meski dikelilingi perkebunan kelapa sawit milik perusahaan swasta dan perkebunan milik pemerintah, justru udara gerah yang menyelimuti Desa Sei Siarti dan juga kampung Labuhanbatu itu. Suasana kesejukan alam pedesaan tidak terasa layaknya desa pada umumnya.

Sementara, perjalanan menuju Desa Sei Siarti ini pun cukup memprihatikan. Karena tidak ditemukan infrastruktur jalan aspal melainkan jalan tanah liat di tengah perkebunan.

Sepanjang jalan, puluhan kilometer sejak dari Jalinsum Negeri Lama hanya ada jalan perkebunan dengan timbunan tanah liat dan sedikit terdapat pengerasan badan jalan dari batu dan kerikil.

Sehingga tak heran, jika hujan menerpa, jalanan itu bak kubangan kerbau. Dan bila musim panas, pengendera harus rela menghirup udara yang diselimuti debu yang beterbangan.

Memang jalan menuju desa ini cukup sepi. Hanya Sesekali melintas kenderaan truk perkebunan dan kenderaan warga yang memiliki keperluan diluar desa tersebut. Tapi siapa sangka, di salah satu dusun yang berada di seberang Sungai Barumun (dahulu Kampung Labuhanbatu) itu, menyimpan sejarah asal muasal nama Labuhanbatu. 

Terbentuknya nama daerah Kabupaten Labuhanbatu memiliki cerita panjang di masa lalu yang tidak banyak diketahui orang.

Konon menurut sejumlah tetua di sana, asal mula nama Labubanbatu berawal dari  sebuah pelabuhan kecil di daerah mereka yang terbuat dari tumpukan bebatuan di  Dusun Sungai Pinang, Kampung Labuhanbatu Kecamatan Panai Tegah, Kabupaten Labuhanbatu.

Pelabuhan itu disebut namanya Labuhanbatu karena memiliki pondasi yang terdiri dari tumpukan batu, kemudian dijadikan warga sebagai Pelabuhan.

Dari dusun terpencil inilah diyakini warga sebagai awal mula terbentuknya nama besar Kabupaten Labuhanbatu. Perlahan-lahan, kemudian pelabuhan tradisional ini belakangan menjadi salah satu daerah pengawasan Belanda.

Termasuk memantau alur transportasi air disepanjang Sungai Barumun yang diawasi Belanda. Sedangkan, di hilir Kampung Labuhanbatu Sungai Barumun itu terdapat dua muara sungai yaitu, Sungai Bilah dan Sungai Barumun.

Kedua aliran sungai itu kemudian mengalir ke pesisir pantai Labuhan Bilik dan berujung ke Selat Malaka.

Seperti diketahui, Selat Malaka merupakan salah satu jalur perdagangan tersibuk dimasa penjajahan Portugis dan Belanda hingga orang Belanda sering menelusuri aliran Sungai Barumun untuk mengawasi pergerakan masyarakat.

Seiring waktu, pelabuhan tradisional yang terdapat tumpukan bebatuan itu cukup dikenal dan masyarakat menyebutnya sebagai "Labuhanbatu".

Seiring waktu, pelabuhan itu semakin tersohor dan menjadi salah satu lokasi transit yang sempat digunakan penjajah Belanda untuk mengambil upeti dari pedagang yang melintas mengangkut perdagangan melalui Sungai Barumun menuju perkampungan di daerah ini.

Lama kelamaan pelabuhan yang terdapat tumpukan batu itu menjadi awal napak tilas terbentuknya asal nama besar Labuhanbatu. Dewasa ini menjadi nama Kabupaten Labuhanbatu.

Namun tidak ada referensi yang jelas kapan digunakan pelabuhan itu sebagai jalur perdagangan di masa lalu.

"Dari cerita kakek kami tidak diketahui secara pasti tahun berapa persisnya Labuhanbatu itu mulai menjadi pelabuhan. Yang jelas cerita orang tua kami, asal mula nama Kabupaten Labuhanbatu itu berasal dari sini," kata Plt Kepala Desa Sei Siarti Muhammad Kenaikan Nasution saat menunjukkan lokasi Labuhanbatu yang kini sudah tidak memiliki jejak sebagai pelabuhan cukup tersohor di daerah itu.

Jika ditelusuri, Labuhanbatu Dusun Sungai Pinang, Kampung Labuhanbatu Kecamatan Panai Tegah itu tidak ada lagi jejak sebagai bukti sejarah adanya sebuah Pelabuhan.

Kondisi banjir yang kerap melanda Sungai Barumun membuat bibir sungai itu tergerus sedikitnya 10 meter per tahun. Akibat itulah, kemudian penyebab hilangnya, jejak adanya pelabuhan di daerah ini pada masa lalu.

Tetapi sekitar 500 meter dari lokasi pelabuhan Labuhanbatu itu, terdapat sebuah kuburan panjangnya mencapai 3 meter lebih. Konon disebut warga setempat merupakan perwira tentara Belanda yang bunuh diri.

Sayangnya, kedua lokasi itu tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Kini semak belukar mengelilingi kedua lokasi yang cukup bersejarah bagi nama besar awal terbentuknya Kabupaten Labuhanbatu tersebut.

Bahkan akibat minimnya perhatian dari pemerintah daerah untuk membangun fasilitas umum di perkampungan Labuhanbatu ini, warga tidak dapat bertahan disini.

Kini hanya sekitar 15 KK warga yang dapat bertahan hidup disana dengan cara bertani.

Betapa pentingnya nilai sejarah dalam perkembangan pradapan terbentuknya nama Kabupaten Labuhanbatu kesannya cukup terabaikan.

Karena di sebuah dusun terpencil yang menjadi awal mula nama Labuhabatu itu, belum ditemukan adanya upaya penerintah untuk dapat menjadikan daerah ini memiliki sejarah.

Padahal, tidak hanya untuk Kabupaten Labuhanbatu, tetapi juga Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

Ketiga kabupaten ini sebelum pemekaran terdiri dari satu wilayah yang sama, sehingga kata Labuhanbatu berawal dari dusun yang berada dari daerah yang berada diseberang Sungai Barumun itu.

Itu makanya, daerah asal muasal Labuhanbatu ini cukup penting artinya bagi sejarah Labuhanbatu Raya.
 
Salah seorang tokoh masyarakat di kampung Labuhanbatu (Dusun Sungai Pinang) Abdul Muis Hasibuan, (34) menceritakan, daerah mereka inilah asal mula nama Labuhanbatu yang kini sudah di mekarjan menjadi tiga Kabupaten.

"Dari sinilah asal mula Labuhanbatu. Ini sudah Saya sampaikan kepada dinas Pariwisata Kabupaten  Labuhanbatu. Kami sampaikan juga, disinilah dulu ada pelabuhan dari susunan batu," ungkap.

Ia menyayangkan sikap pemerintah daerah yang terlalu lambat untuk merespon, jika daerah mereka memiliki sejarah terbentuknya nama Kabupaten Labuhanbatu.

Justru menurut Abdul Muis Hasibuan, sampai saat ini tidak pernah ada perhatian pemerintah, sebab daerah itu dibiarkan tanpa memelihara jejak sejarah yang ada.

Padahal, sudah seharusnya pemerintah membuat miniatur pelabuhan di daerah itu. Tentu hal hal itu dianggapnya dapat menggambarkan pelabuhan yang terbuat dari tumpukan batu di masa lalu.
 
Jika tidak ada perhatian dari pemerintah daerah, maka ia menilai pemerintah telah melupakan asal nama Labuhanbatu yang berasal dari daerah mereka.
 
Memang setiap sidang paripurna yang dilaksanakan 17 Agustus, di petikan naskah mengenang Kabupaten Labuhanbatu sering dibacakan secara administrasi pada mulanya Pemerintahan Wilayah Labuhanbatu adalah merupakan bagian dari wilayah Afdeling Asahan.

Pada masa itu, Afdeling dipimpin oleh seorang Asisten Residen (Bupati). Sedangkan, Onder Afdeling dipimpin oleh seorang Controleur (Wedana).

Controleur Labuhanbatu pertama kali berkedudukan di Kampung Labuhanbatu, kemudian tahun 1895 dipindahkan ke Labuhan Bilik, tahun 1924 dipindahkan ke Marbau.

Selanjutnya, tahun 1928 dipindakan ke Aek Kota Batu dan pada tahun 1932 dipindahkan ke Rantauprapat sampai Indonesia memproklamirkan kemerdekaan 17 Agustus 1945, kedudukan Controleur tetap di Rantauprapat.

Namun belum pernah ditelusuri ulang jejak sejarah asal nama Labuhanbatu. Jika pun terdapat simpang siur pendapat, pemerintah daerah perlu melakukan pencaarian jejak Labuhanbatu berasal dari mana.

Sukarno juga pernah berpesan: "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah" atau disingkat "Jasmerah". Itu merupakan semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Presiden Sukarno. Kiranya pencaharian sejarah nama Labuhanbatu perlu dilakukan dari berbagai pihak.

Sumber : Sindonews.com

Sabtu, 08 April 2017

"Macan Tidur" 6 Negara Asia yang Tidak Bisa Dianggap Remeh Dan Patut Disegani

Asia adalah Benua terbesar dan populasi terbanyak di Bumi, luas yang mencapai 44.500.790.00 km2

Kebanyakan orang menganggap negara-negara Barat yang paling kuat dan berkuasa, padahal Asia juga rumah bagi negara-negara hebat.

Berikut ini adalah beberapa negara-negara Asia yang sulit ditaklukan.

1. India

Kebanyakan orang berfikir India adalah negara miskin dan tidak berkembang maju. Padahal di balik itu semua negara ini berpotensi bersaing dengan negara-negara di Samudra Hindia.

Meski memiliki populasi yang banyak dan angka kemiskinan yang tinggi, pertumbuhan ekonomi di Negara tersebut ternyata melaju dengan cepat, di tahun 2016 India menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Di bidang militer, India berada di posisi ke-3, jumlah militer yang aktif di India mencapai 1,1 juta orang dan memiliki hingga 3.500 mobil tanker. Yang patut disegani adalah India memiliki setidaknya 100 peluru ledak nuklir, serta angkatan laut yang terus berkembang, dan memiliki kapal pengangkut pesawat yang lebih banyak dari negara Inggris. Dinding laser juga dipasang di setiap perbatasan, artinya akan sangat sulit untuk melewati perbatasan India.

2. Pakistan

Pakistan memiliki 65 ribu prajurit aktif angkatan udara dan dilengkapi 900 unit pesawat tempur yang canggih.

Pasukan ini termasuk yang paling ditakuti di kawasan sekitarnya.

Selain angkatan udara yang kuat, Pakistan juga terbilang maju dalam hal senjata nuklir karna Pakistan termasuk negara yang memiliki misil Nuklir terbanyak.

Di bidang ekonomi Pakistan berada di urutan ke-5.

3. Tiongkok

Sebagai negara penduduk terbanyak di dunia, bukan hal aneh jika Tiongkok menjadi cukup subur dalam bidang ekonomi.

Militer Tiongkok juga tidak bisa diremehkan begitu saja, negeri Tirai Bambu ini memiliki 1,6 juta personil angkatan darat aktif, 9 ribu tanker yang siap bertempur, 3 ribu pasukan angkatan udara aktif, dan 4 ribu pesawat tempur. Dengan angka yang begitu besar, militer Tiongkok adalah salah satu yang disegani di Asia.

4. Jepang

Jepang merupakan deretan nomor 7 dalam bidang negara paling berpengaruh di dunia, dan berada di urutan ke-3 dalam bidang ekonomi terbesar di dunia.

Perkembangan teknologi Jepang juga bukan hal mudah untuk dapat disaingi.

Di bidang kekuatan militer Jepang menduduki peringkat ke-7 di dunia. Kecanggihan senjata-senjata militer Jepang patut diacungi jempol, dan Jepang juga bersekutu dengan Amerika yang membuat Jepang menjadi semakin disegani di Asia.

5. Korea Selatan

Korea selatan adalah negara dengan perekonomian terbesar ke-3 di Asia, dan ke-12 di dunia.

Negara ini juga adalah salah saty dari 4 macan Asia, dengan perkembangan Ekonomi tercepat. Mengandalkan ekspor-impornya, Korea Selatan menjadi negara dengan perkembangan ekonomi tercepat.

Di bidang militer, Korea Selatan mempunyai 560 ribu pasukan militer aktif serta 2300 tanker.

Dan hebatnya lagi, Korea Selatan mampu memproduksi sendiri persenjataan Militer nya termasuk tank dan peluncur roket.

6. Indonesia

Indonesia juga tidak bisa di remehkan begitu saja, apalagi dengan kekuatan militernya yang berada di urutan ke-7 se-Asia Pasifik. Pasukan bersenjatanya sudah cukup mampu menjaga kekuatan negara, tanpa adanya bantuan tambahan dari wajib militer lainnya.

Selain pasukan yang tangguh, Indonesia juga masih memiliki perlengkapan tempur lainnya, seperti tanker, jet tempur, pesawat tempur, helikopter, dan masih banyak lagi.

Di bidang ekonomi, Indonesia bisa dibilang negara yang sedang bangkit, perekonomian Indonesia memang masih belum benar-benar stabil, tapi ternyata Indonesia berada di urutan nomor 10 ekonomi terbesar di dunia.

Rabu, 05 April 2017

Kenapa Bendera Orang Meninggal Warnanya Kuning? Ini Penjelasannya

Setiap orang pasti mengalami kematian atau meninggal entah ditinggal maupun meninggalkan keluarga dahulu. Indonesia yang beragam suku, agama dan budaya yang sangat kaya dan luas ini pastinya punya tradisi di saat ada keluarga ataupun tetangga yang sedang berduka.

Bermacam-macam cara untuk memakamkan jenazah ataupun menghibur keluarga yang ditinggalkan. Tetapi dari semua beragam budaya suku dan agama di Indonesia rata-rata jika ada yang meninggal pasti memasang bendera kuning.

Meskipun ada yang menggunakan bendera merah ataupun putih, tapi yang dominan itu warna kuning, Pernahkah kalian bertanya-tanya kenapa harus bendera warna kuning?

Berikut ini penjelasannya kenapa pemilihan bendera berwarna kuning mari kita simak.                                                           
Negara kita pernah dijajah oleh negera Belanda di jaman penjajahan kala itu ada penyakit yang sangat mematikan sehingga susah buat diobati. Nah pada kala itu yang menderita penyakit ini diberi tanda bendera persegi berwana kuning dan di beri huruf Q.

Tanda Q ini berasal dari kata QUARATINE, di jaman itu penderita ini sangat banyak dan terlihat banyak bendera kuning bersimbol Q dipajang di rumah-rumah penderitanya. Meskipun di jaman sekarang jika ada penyakit mematikan itu tidak lagi menggunakan bendera kuning akan tetapi bendera kuning sudah digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk menandakan kematian. Sebab dari itu dibudayakan bendera kuning sebagai simbol kematian di gunakan sampai saat ini.

Jumat, 03 Maret 2017

Inilah Makna Dari Nama Pulau-pulau Indonesia

1.Pulau Sumatera

Asal nama Sumatera berawal dari keberadaan kerajaan Samudera. Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang. Arti dari Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”.

2.Pulau Jawa

Asal mula nama “Jawa” dapat dilihat dari bahasa Sansekerta yang menyebut adanya pulau bernama yawadwipa. Dwipa berarti “pulau”, dan yawa berarti “jelai atau “biji-bijian”. Biji-bijian merupakan jewawut (Setaria italica) atau padi.

3.Pulau Kalimantan

Dari cerita masyarakat di Kalimanatan, khususnya suku Banjar. Mengenai kata ‘kalimantan’ berasal dari dua gabungan kata ‘Kali’ dan ‘Mantan’. Kata ‘kali’ dapat diartikan dengan’sungai’ sedangkan ‘Mantan’ adalah singkatan dari kata “Jumantan” atau kata lain dari “Intan”, tang kalau diterjemahkan berarti sungau yang banyak mengandung berbagai macam intan/berlian.

4.Pulau Bali

Kata Bali pertama kali muncul dalam sebuah Prasasti yang ditemukan pada tahun 835 Saka (913 Masehi) di desa Blanjong, Sanur dan berikutnya prasasti ini dikenal dengan Prasasti Blanjong. Di prasasti yang dikeluarkan oleh raja Sri Kesari Warmadewa ini dituliskan nama pulau Blai dengan sebutan Bali Dwipa yang berarti persembahan, kembali atau sesaji.

5.Pulau Sulawesi

Nama Sulawesi diperkirakan berasal dari kata dalam bahasa-bahasa di Sulawesi Tengah yaitu kata sula yang berarti nusa (Pulau) dan kata mesi yang berarti besi(logam). Sedangkan bangsa/orang-orang Portugis yang datang sekitar abad 14-15 masehi adalah bangsa asing pertama yang menggunakan nama Celebes untuk menyebut pulau Sulawesi secara keseluruhan.

6.Pulau Papua

Nama Papua, aslinya Papa-Ua, asal dari bahasa Maluku Utara. Maksud sebenarnya, bahwa di pulau ini terdapat seorang raja, yang memerintah disini sebagai bapak, itulah sebabnya pulau dan penduduknya disebut demikian. Alasan memilih nama Papua, karena sesuai dengan kenyataan, bahwa penduduk pulau Papaua seja nenek moyang tidak terdapat dinasti yang memerintah atau raja disini. Sebagaimana yang ada dibagian bumi yang lain. Orang Papua berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.

Sabtu, 25 Februari 2017

Sniper Legendaris Asal Indonesia

Sahabat www.artikelcampuran22.blogspot.com tahukah bahwa di Indonesia ada salah seorang prajurit yang dikenal luas oleh dunia? Prajurit itu adalah seorang TNI AD yang menjadi salah satu sniper terbaik di dunia, prajurit yang Saya maksud ini bernama Tatang Koswara.

Tatang Koswara lahir di Cibaduyut, Bandung Jawa Barat, 12 desember 1946. Tatang koswara mendaftar di TNI AD bersama adiknya namun hanya Tatang Koswara yang berhasil lolos sementara adiknya harus menunggu tahun berikutnya untuk mendaftar kembali. Tatang mulai masuk militer melalui jalur Tamtama di Banten pada 1966.

Selama di dunia militer, Tatang mendapat sorotan dari atasannya. Pengalamannya hidup di kampung membuat pelajaran militer menjadi hal yang tak sulit baginya, baik dalam hal fisik, berenang, maupun menembak. Hingga pada tahun 1974-1975, Tatang dengan 7 rekannya terpilih buat masuk program MTT (mobile training teams) yang dipimpin oleh Kapten Conway dari Amerika Serikat.

Tahun itu, Indonesia belum memiliki antiteror dan sniper. Muncullah ide dari perwira TNI untuk melatih jagoan tembak dari empat kesatuan, yakni Kopassus (AD), Marinir (AL), Paskhas (AU), dan Brimob (POLRI). Namun, sebagai langkah awal, akhirnya hanya diikuti TNI  AD.

Dalam praktiknya, Kopassus pun kesulitan memenuhi kuota yang ada. Setelah seleksi fisik dan kemampuan, dari kebutuhan 60 orang, Kopassus hanya mampu memenuhi 50 kursi. Untuk memenuhi kekosongan 10 kursi, Tatang dan tujuh temannya dilibatkan menjadi peserta. Tatang dan 59 anggota  TNI AD dilatih Kapten Conway sekitar dua tahun. Mereka dilatih menembak jitu pada jarak 300, 600, dan 900 meter. Tak hanya itu, mereka juga dilatih bertempur melawan penyusup, sniper, kamuflase, melacak jejak, dan bagaiman cara menghilangkan jejak.

Dari 2 tahun masa pelatihan dan dari 60 orang peserta, hanya 17 orang yang lulus. Dan jelas, Tatang Koswara salah satunya. Ke-17 orang tersebut mendapatkan hadiah senjata yang juga digunakan oleh sniper legendaris Marinie AS, Carlos Hatchcock saat perang di Vietnam. Ilmu dan senjata yang ia dapatkan saat 2 tahuh pelatihan bersama Kapten Conway membuat Tatang ditarik Kolonel Inf. Edi Sudrajat, Komandan Pusdat Pendidikan Infanteri Cimahi untuk menjadi pengawal pribadi dan menjadi Sniper  saat terjun ke medan perang di Timor Timur pada tahun 1977- 1978.

Ada dua tugas rahasia yang disematkan pada dua sniper saat itu (Tatang dan Ginting). Pertama, melumpuhkan empat kekuatan musuh, yaitu sniper, komandan, pemegang radio, dan anggota pembawa senjata otomatis. Kedua, menjadi intelijen. Intinya masuk ke jantung pertahanan, melihat kondisi medan, dan melaporkannya ke atasan yang menyusun strategi perang. Bahkan, ada kalanya sniper ditugaskan untuk mengacaukan pertahanan lawan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi jatuhnya korban.

"Lawan kita itu Pasukan Fretilin yang tahu persis medan di Timtim. Mereka pun punya kemampuan gerilya yang hebat, makanya Indonesia menurunkan sniper untuk mengurangi jumlah korban," Kata Tatang Koswara.

Selama empat kali masuk ke medan perang, Tatang mengatakan, pelurunya telah membunuh 80 orang. Bahkan, dalam aksi pertamanya, dari 50 peluru, 49 peluru berhasil menghujam musuh. Satu peluru sengaja disisakannya. Ini untuk memenuhi prinsip seorang sniper yang pantang menyerah. Sebagai seorang sniper, dalam keadaan terdesak, dia akan membunuh dirinya sendiri dengan satu peluru tersebut.

Lewat kelihaiannya itulah, Tatang didaulat menjadi salah satu Sniper  terbaik dunia, seperti dituliskan dalam buku Brookesmith itu. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53 dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur pada 1977-1978.

Tatang Koswara wafat pada 3 maret 2015  pukul 19.30 di jakarta. Setelah sebelumnya sempat dilarikan ke RS Medistra , setelah menjadi bintang tamu program Hitam Putih di Trans7 yang di siarkan secara langsung.

Kata-kata terakhir Pak Tatang adalah "Pada saat kaki saya tertembak,saat saya lari saya bingung karena takut masih dikejar oleh musuh dan saya sudah siap mati pada saat itu,tapi sebelum saya mati saya mencabut ikatan dan foto di kepala saya lalu saya ikatkan ke luka yang tertembak untuk menutupi lubang peluru tersebut lalu sejak itu saya jalan merangkak dengan ikatan yang ada di kaki saya lalu berpikir "kalau sampai matipun,maka ketika aku mati darahku harus ada di merah putih",semua kata-kata itu dia ucapkan saat di belakang panggung Hitam Putih lewat Deddy Corbuzier.
Tatang meninggal setelah terkena serangan jantung yang merenggut hidupnya, Bukan peluru musuh atau peluru terakhir yang disimpannya sendiri.

Jumat, 24 Februari 2017

Aneh Tapi Nyata Pohon Ini Dirantai Selama 119 Tahun, Alasannya Sungguh Tidak Masuk Akal..

Bagaimana menurut Sahabat jika melihat pohon yang di rantai? Tentunya sangat tidak masuk akal bukan?

Namun beda halnya dengan yang ada di Landi Kotal, Pakistan. Bukan tahanan, yang dirantai di sana adalah pohon. Menurut cerita, pohon tersebut telah dirantai selama 119 tahun.Kenapa bisa begitu?
 
Rupanya, pohon itu ‘ditangkap’ oleh seorang polisi. Dilansir dari Postjargan, Rabu (15/2/2017), semua bermula pada tahun 1898 saat seorang perwira Inggris bernama James Squad melewati pohon tersebut dalam keadaan mabuk. Entah mengapa, James merasa bahwa pohon tersebut mengikuti dirinya. Merasa ketakutan, ia pun memerintahkan anak buahnya untuk ‘menangkap’ dan merantai pohon tersebut.

Karena dirantai, pohon itu kini disalahpahami sebagai simbol dari perbudakan. Padahal di pohon itu ada plang yang menjelaskan kisah unik tentang pohon itu. “Suatu malam, seorang polisi Inggris mabuk berat dan mengira saya bisa bergerak dari tempat saya berdiri dan dia menyuruh petugas menangkap saya. Sejak itu saya ditahan,” demikian bunyi tulisan yang tertera di plang pohon itu.

Kini pertanyaannya, kenapa pohon tua tersebut tetap dirantai meski 119 tahun telah berlalu? Ternyata, pihak pemerintah Pakistan ingin menjadikan pohon tersebut sebagai contoh.

Pohon itu dijadikan contoh betapa kejamnya pemerintahan Inggris yang bahkan tak segan memberi ‘hukuman’ pada sebatang pohon. Menurut warga lokal, peristiwa ini menunjukkan bahwa orang Inggris akan menghukum siapa pun layaknya pohon tersebut jika berani melawan raja.

Jadi, pohon itu kini masih berdiri sebagai tahanan dan daerah tempatnya tumbuh menjadi tempat wisata sejarah yang cukup populer.

Kenapa Sih Bangsawan Disebut Darah Biru? Ternyata Alasannya..

Kamu mungkin sering mendengar istilah darah biru, yang ditujukan untuk orang-orang kelas atas atau bangsawan. Namun dari mana asal istilah tersebut? Apakah bangsawan tersebut memang memiliki darah warna biru dibandingkan orang biasa yang memiliki darah berwarna merah?

Ternyata bukan itu alasan bangsawan di sebut "Darah Biru" sejerah mengenai sebutan darah biru itu sendiri memeliki 2 versi yang berbeda

Yang pertama istilah darah biru berasal dari bahasa Spanyol, yaitu Sangre Azul. Zaman dulu, bangsa Spanyol merupakan keturunan dari bangsa Visigoth (suku asal Jerman). Istilah sangre azul merujuk pada keluarga kerajaan Spanyol dan para bangsawan. Hal ini dikarenakan fisik mereka. Kulit yang dimiliki oleh bangsawan Spanyol keturunan Visigoth itu dikatakan sangat putih, sehingga pembuluh darah yang berada di bawah kulitnya jelas terlihat. Pembuluh darah sendiri yang tampak pada tubuh biasanya berwarna biru.

Warna kulit bangsawan yang putih itu jelas berbeda dibandingkan dengan masyarakat kelas bawah yang kebanyakan memiliki kulit lebih hitam. Warna kulit yang lebih gelap membuat pembuluh darah pada masyarakat kelas bawah seperti petani yang lebih sering bekerja di bawah sinar matahari menjadi kurang jelas terlihat. Wajar saja, jika kaum bangsawan kulitnya lebih terang karena mereka tidak perlu ke luar rumah atau terkena sinar matahari untuk bekerja.

Sementara versi kedua mengatakan bahwa darah biru merupakan julukan dari kaum tertindas terhadap orang-orang kaya. Pada zaman dulu (Jawa Dwipa), mayoritas orang yang sudah kaya dan mapan akan memiliki karakter congkak dan memperlakukan kaum di bawahnya (Sudra) dengan sewenang-wenang. Karena merasa tidak nyaman, ada seorang filsuf yang memiliki pengetahuan anatomi tubuh manusia. Setiap manusia memiliki darah, yang berwarna merah dan biru. Darah merah merupakan darah yang memiliki kandungan oksigen dan darah biru merupakan darah yang kadar oksigennya rendah.

Kaum Sudra sebagai kaum tertindas merasa muak, dengan perilaku kaum bangsawan yang tidak berperikemanusiaan tersebut. Untuk menghina dan mencemooh kaum bangsawan tersebut, kaum Sudra (yang dipelopori filsuf) mempopulerkan julukan darah biru, yang berarti bahwa kandungan oksigen dalam aliran darah mereka rendah. Dalam hal ini, mereka memiliki kebiasaan hedonis dan sangat pemalas. Kerja mereka cuma memaki rakyat jelata, mereka jarang bergerak karena mereka telah terlena dengan kemewahan.

Begitulah awal mula istilah darah biru. Versi mana yang bakal Sahabat percayai sebagai sejarah awal mula istilah darah biru?

Kenapa Sih Bulan Februari Cuma 28 Hari? Ternyata Alasannya..

Jumlah hari dalam satu bulan seperti yang kamu tahu ada beragam. Ada yang 30 hari, ada juga yang 31 hari. Namun, di antara bulan-bulan dalam satu tahun, hanya bulan Februari saja yang berjumlah 28 hari, dan terkadang 29 hari jika tahun kabisat. Kenapa hal ini bisa terjadi? Berikut ini sejarahnya..

Dikutip dari www.sainsindonesia.co.id dan berbagai sumber lainnya, Kisah tentang jumlah hari dalam bulan Februari rupanya berasal dari zaman Romawi, dan kalender yang saat ini kita gunakan secara tidak langsung didasarkan pada kalender Romawi Kuno.

Menurut cerita, raja pertama Roma, yaitu Romulus, menyusun kalender bulan yang terdiri dari 10 bulan, diawali pada ekuinoks musim semi di bulan Maret dan berakhir pada bulan Desember, sehingga Oktober merupakan bulan ke-8 dan Desember merupakan bulan ke-10. Jumlah hari dalam 1 tahun menurut kalender Romawi awal ini adalah 304 hari. Sebenarnya kalender Romawi terdiri dari 12 bulan, tetapi 2 bulan terakhir tidak diberi nama karena 2 bulan sesudah bulan Desember merupakan musim yang amat dingin, sehingga tidak memberikan kepentingan dalam urusan panen.

Raja kedua dari Roma, yaitu Numa Pompilius, membuat kalender yang lebih akurat yang didasarkan pada pergerakan bulan. Satu tahun kalender berjumlah 354 hari. Numa menambahkan dua buah bulan, yaitu Januari dan Februari setelah Desember, untuk menjelaskan perpanjangan hari kalender yang ada. Numa juga menambahkan satu hari untuk bulan Januari, sehingga jumlah hari dalam satu tahun menjadi 355 hari. Bulan Februari tetap berjumlah 28 hari, dan sialnya, bagi Roma ritual pemurnian dan penghormatan bagi orang mati dilakukan pada bulan Februari (berasal dari kata februare yang berarti “untuk memurnikan”).
 
Kalender Romawi ini ternyata masih memiliki kekurangan dalam jumlah hari terkait kesesuaian dengan musim. Banyak upaya dilakukan untuk menyelaraskan kalender dengan musim tapi semua gagal.

Sekitar tahun 45 SM, Kaisar Romawi yang sangat terkenal, Julius Caesar, menugaskan seorang ahli untuk membuat kalender yang berdasarkan gerak Matahari, seperti kalender Mesir, untuk menggantikan kalender Romawi. Caesar menambahkan 10 hari dan satu hari ekstra di bulan Februari setiap 4 tahun. Sekarang, satu tahun rata-rata berjumlah 365,25 hari, dan ternyata sangat dekat dengan jumlah hari rata-rata secara aktual, yaitu 365,2425 hari.

Kalender Julius Caesar terdiri dari 12 bulan dengan jumlah hari 31 atau 30, sehingga jumlah hari dalam satu tahun adalah 365 atau 366 hari. Caesar kemudian menginginkan namanya diabadikan dalam kalender tersebut, dengan menjadikan bulan ketujuh sesuai namanya yaitu Juli, dan sisa bulan lainnya diurutkan hingga akhir. Pada saat itu, bulan ketujuh sebenarnya hanya memiliki 30 hari, tapi oleh Caesar bulan tersebut dijadikan salah satu bulan dengan jumlah hari terbanyak, yaitu 31 hari. Akibat keputusan ini, maka harus ada 1 bulan lain yang jumlah harinya dikurangi. Entah mengapa, yang dipilih adalah bulan Februari. Satu hari dalam bulan Februari ditambahkan ke bulan Juli, sehingga bulan Februari hanya berjumlah 29 hari.

Setelah anak angkat Julius Caesar, yaitu Augustus, menjadi kaisar Roma, ia juga ingin memiliki satu bulan dengan jumlah hari yang panjang, yaitu 31 hari, dan ia memilih bulan setelah bulan Juli. Bulan tersebut dinamai Agustus. Lagi, satu hari pada bulan Februari diambil untuk membuat bulan Agustus berjumlah 31 hari. Karena itulah Februari hanya memiliki 28 hari, kecuali pada tahun-tahun kelipatan 4 mendapat tambahan 1 hari.

Kalender Julian masih memiliki kekurangan, yaitu adanya pergeseran tahun tropis 1 hari setiap 128 tahun. Hal ini menyebabkan penentuan ekuinoks musim semi menjadi tidak akurat. Solusi untuk mengatasi kesalahan ini adalah dengan menggantikan kalender Julian dengan kalender Gregorian pada tahun 1582, yang mengubah aturan penentuan tahun kabisat pada tahun-tahun kelipatan 100. Kalender Gregorian kemudian diadopsi di hampir semua negara, hingga saat ini.

Gusti Nurul, Putri Cantik yang Pernah Tolak Cinta Soekarno

Berbicara mengenai presiden pertama RI, Sukarno, tentu tak bisa dipisahkan dari kisah cintanya dari beberapa wanita. Namun siapa sangka, cinta Sukarno pada seorang wanita pernah ditolak. Wanita yang menolaknya itu bernama Gusti Nurul.

Gusti Raden Ayu (G.R.Ay) Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau lebih dikenal dengan nama Gusti Nurul adalah seorang puteri kerajaan di pemerintahan Mangkunegaran yang lahir di Istana Mangkunegaran pada 17 September 1921.

Dikutip dari Detik.com dan berbagai sumber lainnya, kisah seorang putri cantik yang berprinsip serta hidupnya yang sederhana ini menyita perhatian khalayak umum. Meski telah berpulang di usia 94 tahun pada tahun 2015 lalu, Gusti Nurul tetap menjadi primadona di hati masyarakat Indonesia. Pasalnya, ketegasan prinsip hidupnya yang sungguh berani kala itu, sebagai putri keraton ia bertekad memilih hidup dengan prinsip antipoligami.

Dalam potongan kisah biografi Gusti Nurul dalam sebuah buku berjudul “Gusti Noeroel Mengejar Kebahagiaan” yang ditulis oleh Ully Hermono, kisah sang putri cantik jelita ini bermula ketika usianya menginjak 20 tahun.

Pada zaman itu, usia 20 tahun sudah dianggap tua. Namun, Gusti Nurul belum juga dipersunting siapapun. Wanita yang dijuluki sebagai ‘De Bloem van Mangkunegaran’ atau ‘Kembang dari Mangkunegaran’ oleh Ratu Belanda ini dianggap hidup melampaui zamannya.

Gusti Nurul adalah sosok wanita keraton yang memiliki hobi berbeda dari zamannya kala itu. Gusti Nurul sangat menyukai bermain tenis dan berkuda, bahkan ia juga sangat suka bermain ski es. Padahal, di zamannya dahulu, hal ini adalah tabu di lakukan oleh seorang wanita, apalagi keturunan keraton.
Ternyata, kecantikan dan kecerdasannya mampu menghipnotis banyak pria. Sepanjang sejarah Indonesia, mungkin hanya satu wanita yang pernah dicintai oleh banyak pria berkelas, yaitu Gusti Nurul. Bagaimana tidak, wanita tercantik di awal berdirinya Republik Indonesia ini pernah ditaksir oleh presiden, perdana menteri, komandan TNI AD dan seorang Sri Sultan sekaligus.

Presiden Sukarno, Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Sultan Hamengkubuwono IX hingga Komandan TNI AD Pangeran Djatikusumo telah dibuat terpesona oleh kecantikan dan keanggunan sang puteri keraton. Namun sayang, semua cinta mereka ditolak oleh Gusti Nurul.

“Sayangnya aku tak bisa menerima cinta mereka. Penyebabnya hanya satu aku tak mau dimadu. Itu sudah menjadi tekadku,” ungkapnya.

Dalam hal hubungannya dengan Bung Karno, Gusti Nurul memang tak pernah mendengar langsung ungkapan isi hati Bung Karno, namun ia mengaku pernah mendengar ungkapan isi hati Bung Karno dari istrinya, Hartini. Bahkan, Presiden RI pertama ini pernah meminta Basuki Abdullah untuk melukis paras Gusti Nurul untuk dipajang di kamar kerja Presiden di Istana Cipanas.

“Seandainya pun dulu ia langsung melamarku, problemnya akan sama dengan yang dihadapi Sutan Sjahrir. Sebagai tokoh PNI, tak mungkin ia menikah denganku. Dan yang terpenting aku tidak mau dimadu. Yah, ia memang bukan jodohku,” kata Gusti Nurul.

Belum juga memiliki pasangan karena banyak yang ditolak, membuat orang-orang di sekitar Gusti Nurul gelisah lantaran usia Gusti Nurul hampir menginjak 30 tahun. Ibunda dari Gusti Nurul akhirnya meminta puterinya agar melakukan tradisi tirakat mutih. Tradisi yang hanya makan nasi putih dan air putih selama tiga hari berturut-turut yang biasa di lakukan keraton Jawa.

Meski sebenarnya tak ingin, namun Gusti Nurul tetap menuruti permintaan ibundanya. Saat tirakat mutih, Gusti Nurul berdoa sangat khusyu untuk diberikan petunjuk jodohnya. Saat itu, akhirnya Gusti Nurul mendapat mimpi, ia melihat tiga pria yang dikenalnya dengan baik.

Tak hanya bermimpi bertemu dengan tiga pria yang selama ini dikenalnya karena masih dalam kerabatnya, Gusti Nurul juga bermimpi melihat ayam jago yang gagah dan memiliki bulu yang bagus serta cakar yang bersih.

Hingga akhirnya, pada 24 Maret 1951, saat usianya 30 tahun, Gusti Nurul menemukan sosok yang tepat untuk dinikahinya, yakni Raden Mas Surjosularso yang merupakan sepupunya.

Saat itu, status RM Surjosularso adalah duda beranak. Mungkin ini maksud dari mimpi Gusti Nurul saat menjalani tirakat mutih.

Suaminya saat itu bukan seorang yang berpengaruh. Suami Gusti Nurul ini menjabat sebagai Komandan Pusenkav di Bandung. RM Surjosularso dikenal sebagai sosok perwira yang sederhana dan tanpa ambisi mengejar jabatan.

Gusti Nurul juga tak mengerti mengapa banyak pria hingga tokoh penting Indonesia menyukainya. Gusti Nurul bahkan merasa dirinya hanya seorang wanita biasa seperti wanita lainnya.

Dari suaminya, Gusti Nurul dikaruniai 7 orang anak. Kini, saat ia berpulang, ia juga meninggalkan 14 cucu dan 1 cicit.

5 Peristiwa Besar Sejarah yang Disebabkan Karena Kesalahan Sepele

Pernahkah kamu mendengar teori Efek Kupu-kupu (Butterfly Effect)? Teori Efek Kupu-kupu berpendapat mengenai perubahan kecil di suatu tempat dapat memengaruhi kejadian besar di tempat lain. Meski masih berupa teori, nyatanya sudah banyak kejadian yang membuktikan adanya Efek Kupu-kupu ini, seperti kejadian besar gara-gara hal sepele.

Berikut adalah 5 kesalahan sepele yang menyebabkan peristiwa besar dalam sejarah.

1. Titanic tenggelam gara-gara kunci hilang

Sampai saat ini, banyak kesaksian yang dipaparkan atas tragedi tenggelamnya kapal terbesar di masanya itu. Namun dari sekian banyak kesaksian, ada satu cerita ironis yang dipaparkan oleh salah satu korban yang selamat. Fred Fleet adalah seorang kru kapal yang bertugas memantau gunung es.

Sebelum Titanic tenggelam, ternyata ia tak bisa mengambil teropongnya yang terkunci. Freed tak bisa menemukan di mana kunci itu seharusnya. Ia bahkan bersaksi, jika kunci itu ada, Titanic tak akan tenggelam. Ternyata sebelum kapal berlayar, orang yang bertanggung jawab terhadap Titanic, David Blair, digantikan dengan orang lain. Dan kunci tersebut masih berada di dalam saku David yang lupa menyerahkannya.

2. Runtuhnya tembok Berlin karena pembacaan pidato yang tidak benar

Sebelum menjadi kesatuan seperti sekarang, Jerman terpecah menjadi dua, yaitu Jerman Timur dan Jerman Barat dengan Tembok Berlin sebagai pemisah. Suatu saat, pemerintah Jerman Timur ingin memberi sedikit kelonggaran kunjungan ke Jerman Barat. Seorang pejabat beranma Gunter Schabowski ditugaskan untuk menginfokan hal tersebut.

Pada tanggal 9 November 1989, Gunter diserahi kertas pidato yang tak ia baca dengan teliti. Isinya panjang dan membosankan. Namun orang-orang mulai awas saat mendengar soal pelonggaran aturan mengunjungi Jerman Barat. Beberapa wartawan yang awalnya bengong karena pidato yang panjang mengira kebebasan mengunjungi Jerman Barat akan dilakukan seluruhnya.

Saat orang-orang bertanya kapan aturan itu berlaku, Gunter yang tak membaca pidatonya dengan benar tak bisa menemukan tanggal yang pasti. Namun karena tak ingin malu di depan pers, ia bergumam “Segera!” Media heboh dengan berita kebebasan mengunjungi Jerman Barat. Saking ricuhnya, massa akhirnya meruntuhkan Tembok Berlin yang terkenal itu.

3. Perang Dunia I karena salah belok

Sebagaimana yang diketahui, salah satu penyebab meletusnya PD I yakni terbunuhnya Archduke Franz Ferdinand dari Austria serta istrinya. Tewasnya Franz Ferdinand menyebabkan bentrokan diplomatik yang berujung pada perang.

Pada hari yang bersejarah itu, dua upaya pembunuhan dilakukan. Usaha pertama gagal karena sopir Franz berhasil menghindar sebelum bom yang dilempar pembunuh meledak. Franz dan istrinya selamat meski banyak korban yang berjatuhan.

Franz kemudian ingin menemui para korban. Saat dalam perjalanan ke rumah sakit, sang sopir salah belok. Dalam sebuah toko di jalan yang dipilih si sopir ternyata ada seorang pembunuh. Melihat mobil Franz, sang pembunuh melepaskan dua tembakan yang menyebabkan Franz serta istrinya tewas. PD I pun meletus.

4. Kitab suci dijuluki Kitab pendosa gara-gara kurang satu huruf

Wicked Bible atau Kitab Pendosa merupakan Alkitab yang diterbitkan kerajaan London, Robert Barker, dan Martin Lucas pada tahun 1631. Awalnya, Alkitab tersebut dimaksudkan untuk menjadi cetakan ulang King James Bible. Namun, pada surat Exodus 20: 14, di bagian Ten Commandements, terdapat kesalahan cetak berupa kata ‘not’ yang ketinggalan.

Dalam Al-kitab seharusnya tercetak “Thou Shalt Not Commit Adultery” atau Jangan Berzina, hanya tercetak Thou Shalt Commit Adultery. Setahun berikutnya, karena kesalahan tersebut penerbit alkitab didenda dan dicabut izinnya. Sebagian besar eksemplar ditarik dan dibakar.

5. Normandia direbut Sekutu gara-gara hari ulang tahun

Awal mulanya, komandan Erwin Rommel ditugaskan untuk menjaga Normandia, garis pantai Prancis. Namun ia yakin kalau serangan musuh tidak akan terjadi mengingat cuaca yang buruk. Maka ia pun memutuskan pulang ke rumah untuk merayakan ulang tahun istrinya. Tak lupa, ia mengajak beberapa perwira yang lain. Tak disangka, ternyata pada tanggal 6 Juni 1944, tepat saat istri sang komandan berulang tahun, sekutu menyerang. Saat Erwin kembali, semua pantai telah direbut oleh tentara sekutu.

Tak hanya itu, pada saat perang terjadi tentara Jerman ingin menggunakan Tank Panzer untuk menyerang sekutu. Mereka menghubungi Hitler untuk meminta persetujuan. Sayangnya, Hitler tengah tidur dan tak ada yang berani membangunkannya. Jadilah Jerman gagal mempertahankan Normandia.

Rabu, 28 Desember 2016

Sejarah Pramuka di Dunia dan Indonesia (Lengkap

Halo Sahabat www.artikelcampuran22.blogspot.com
Di waktu kali ini Saya akan membahas tentang sejarah pramuka di dunia dan Indonesia.

Sejarah Pramuka, baik itu di Indonesia maupun dunia, tak bisa dilepaskan dari sosok Bapak Pandu Sedunia, pendiri gerakan Pramuka, Baden Powell. Sejarah tersebut bermula ketika Pria yang bernama lengkap Lord Robert Baden Powell Gilwell ini melaksanakan perkemahan pertamanya bersama dengan 22 anak laki-laki pada tanggal 25 Juli 1907 di Pulau Brownsea, Inggris. Perkemahan yang berlangsung selama 8 hari itu menjadi tonggak sejarah penting dari lahirnya gerakan Pramuka Dunia. Ciri khas militer yang melekat kuat pada dirinya, membuat Baden Powell dikenal sebagai sosok yang tegas, disiplin, dan terampil. Sifat-sifat yang memang menjadi ciri khas dari gerakan Pramuka.

Nah, pada kesempatan ini Saya akan mengurai kembali sejarah berdirinya gerakan Pramuka. Pembahasannya akan berbicara seputar sosok tokoh penting pendiri gerakan Pramuka. sejarah kepramukaan di dunia, dan tentu saja juga sejarah Pramuka di Indonesia. Selamat membaca.

Pendiri Pramuka, Baden Powell

Telah Saya singgung sedikit di awal uraian ini bahwa tokoh penting yang menjadi aktor berdirinya gerakan Pramuka adalah Bapak Baden Powell. Membicarakan gerakan Pramuka  di dunia dan di Indonesia tanpa menyebut Baden Powell tentu saja terasa janggal. Selain sebagai pendiri gerakan kepramukaan sedunia, pengalaman Lord Baden Powel lah yang mendasari pembinaan remaja di Inggris yang kemudian berkembang dan diadaptasi sebagai sistem pendidikan kepramukaan di seluruh dunia.

Siapakah Baden Powell?

Bapak Pandu atau Chief Scout of the World yang sering dipanggil Baden Powell dilahirkan di London, Inggris pada 22 Februari 1857, ketika lahir diberi nama Robert Stephenson Smyth Powell. Ayahnya bernama Domine Baden Powell, seorang profesor geometri di Universitas Oxford, yang meninggal ketika Baden Powell masih kecil.

Karena sejak kecil Baden Powell ditinggal mati oleh ayahnya, beliau memperoleh pendidikan karakter dan berbagai macam keterampilan dari ibu dan saudara-saudaranya. Peran ibu yang sangat penting bagi perkembangannya diakui sendiri oleh Baden Powell. Beliau pernah mengungkapkannya dengan kalimaat "Rahasia keberhasilan saya adalah ibu saya."

Baden Powell kecil terkenal sebagai anak yang cerdas, gembira, dan lucu. Sifat ini membuat Baden Powell sangat disukai oleh teman-temannya. Selain itu, Baden Powell juga dikenal terampil dalam memainkan alat musik piano dan biola, berenang, teater, berkemah, berlayar, menggambar, dan mengarang.

Beranjak dewasa, Baden Powell kemudian bergabung dengan militer Inggris. Banyak hal yang pernah dialami Baden Powell selama menjadi tentara. Pengalaman-pengalaman tersebut beliau tulis dan dibukukan dengan judul Aids to Scouting pada tahun 1899. Buku ini berisi penjelasan panduan bagi tentara muda Inggris dalam melaksanakan tugas dilapangan. Tak disangka, bukunya tersebut terjual laris di Inggris. Bahkan, buku ini juga banyak dibaca oleh para guru dan organisasi kepemudaan.

Melihatnya besarnya antusias pembaca buku Aids to Scouting, William Alexander Smith, seorang pendiri organisasi Pemuda di Inggris menyarankan kepadanya untuk menulis ulang buku tersebut. Baden Powell pun menyetujuinya. Buku itupun ditulis ulang Baden Powell, namun dengan berbagai revisi agar cocok dibaca oleh remaja-remaja yang bukan berasal dari ketentaraan.

Untuk menguji semua ide yang tertuang dalam buku barunya tersebut, pada tanggal Baden Powell melaksanakan sebuah acara perkemahan di Brownsea Island Inggris, bersama dengan 22 remaja lelaki yang memiliki latar belakang berbeda. Perkemahan itu sendiri berlangsung selama 8 hari, yakni dimulai dari 25 Juli s/d 2 Agustus 1907. Sejak perkemahan inilah, Baden Powell semakin serius untuk mengembangkan gerakan kepanduan. Bahkan, pada tahun 2010 beliau memutuskan untuk mengakhiri karirnya di dunia militer dengan pangkat terakhir Letnan Jendral agar bisa fokus pada pengembangan pendidikan kepramukaan. Sebuah totalitas yang luar biasa dipersembahkan Baden Powell demi majunya dunia Pramuka.

Tahun 1939, Baden Powell dan istrinya memutuskan pindah dan tinggal di Nyeri, Kenya. Bersamaan dengan itu, kondisi kesehatan Baden Powell mulai menurun. Beliau mulai sakit-sakitan. Hingga pada tanggal 8 Januari 1941, pendiri Pramuka itu meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Baden Powell tutup usia, beliau dimakamkan di pemakaman St. Peter, Nyeri Kenya.

Sejarah Pramuka di Dunia

Sejak Baden Powell menuliskan pengalamannya dalam buku Scouting for Boys pada tahun 1908, hal ini dianggap sebagai cikal bakal dari lahirnya gerakan Pramuka. Buku itu sengaja dibuat oleh Baden Powell sebagai panduan dalam acara perkemahan yang dirintisnya. Tidak hanya di Inggris, buku ini juga laris manis di negara-negara lain. Organisasi-organisasi Pramuka pun bermunculan yang pada mulanya hanya diperuntukkan untuk anak laki-laki saja dengan nama "Boys Scout". Barulah pada tahun 1912, dibantu oleh adik perempuannya, Agnes, Baden Powell mendirikan organisasi Pramuka untuk perempuan dengan nama "Girl Guides".

Tak perlu waktu lama, semenjak buku Scouting For Boys diterbitkan, Pramuka semakin dikenal di seluruh Inggris dan Irlandia. Pada tahun 1910, negara Finlandia, Denmark, Argentina, Perancis, Jerman, Yunani, Meksiko, India, Belanda, Russia, Norwegia, Singapura, Amerika Serikat, dan Swedia tercatat telah memiliki organisasi Pramuka. Organisasi Pramuka rintisan Baden Powell terus berkembang. Pada tahun 1916, berdiri organisasi Pramuka untuk usia siaga yang bernama CUB (anak serigala). Kelompok ini juga dilengkapi dengan buku panduan kegiatan dengan mengadopsi karya Rudyard Kipling yang berjudul The Jungle Book. Buku tersebut bercerita atentang Mowgli si anak rimba yang dipelihara oleh induk serigala di dalam hutan.

Baden Powell terus bergerak, pada tahun 1918 beliau mendirikan "Rover Scout", sebuah kelompok yang diperuntukkan bagi remaja-remaja berusia 17 tahun. Tahun 1922, Baden Powell kembali menerbitkan buku yang berjudul Rovering to Success (Mengembara Menuju Bahagia). Buku tersebut menceritakan tentang seorang pemuda yang harus mengayuh perahu sampannya menuju pantai bahagia.

Untuk pertama kalinya, Jambore Dunia dilaksanakan pada 30 Juli sampai 8 Agustus 1920 di Olympia Hall, London. Sebanyak 8000 orang anggota Pramuka dari 34 negara turut serta dalam acara Jambore itu. Pada kesempatan itu pula, Baden Powell dinobatkan sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World). Di tahun yang sama, dibentuklah Dewan Internasional organisasi Pramuka yang beranggotakan 9 orang. Kota London ditetapkan sebagai kantor kesektariatan Pramuka sedunia. Meskipun kemudian tahun 1958 kantor ini dipindahkan ke Ottawa, Kanada. Terakhir tahun 1968, sekretariat Pramuka sedunia berpindah lagi ke Geneva, Swiss.

Jambore Pramuka Sedunia

Sejak saat itu, acara Jambore Dunia terus diselenggarakan hingga kini. Jambore selanjutnya, yakni Jambore XXIV akan dilaksanakan di West Virginia, Amerika Serikat.

Berikut ini daftar lengkap Jambore Dunia yang pernah diselenggarakan:

• Jambore I Dunia 1920: Olympia, Kensington, London, Inggris (8.000 orang)
• Jambore II Dunia 1924: Ermelunden, Denmark (4.549 orang)
• Jambore III Dunia 1929: Birkenhead, Inggris (30.000 orang)
• Jambore IV Dunia 1933: Godollo, Hungaria (25.792 orang)
• Jambore V Dunia 1937: Vogelenzang, Bloemendaal, Belanda (28.750 orang)
• Jambore VI Dunia 1947: Moisson, Prancis (24.152 orang)
• Jambore VII Dunia 1951: Bad Ischl, Austria (12.884 orang)
• Jambore VIII Dunia 1955: Niagara-on-the-Lake, Kanada (11.139 orang)
• Jambore IX Dunia 1957: Sutton Park, Inggris (30.000 orang)
• Jambore X Dunia 1959: Los Banos, Laguna, Filipina (12.203 orang)
• Jambore XI Dunia 1963: Marathon, Greece (14.000 orang)
• Jambore XII Dunia 1967: Farragut State Park, Amerika Serikat (12.011 orang)
• Jambore XIII Dunia 1971: Fujinomiya, Jepang (23.758 orang)
• Jambore XIV Dunia 1975: Lillehammer, Norwegia (17.259 orang)
• Jambore XV Dunia 1979: Neyshabur, Iran (dibatalkan)
• Jambore XV Dunia 1983: Calgary, Kanada (14.752 orang)
• Jambore XVI Dunia 1987-1988: Sydney, Australia (14.434 orang)
• Jambore XVII Dunia 1991: Gunung Seorak, Korea Selatan (20.000 orang)
• Jambore XVIII Dunia 1995: Flevoland, Belanda (28.960 orang)
• Jambore XIX Dunia 1998-1999: Picarquín, Chili (31.000 orang)
• Jambore XX Dunia 2002-2003: Sattahip, Thailand (24.000 orang)
• Jambore XXI Dunia 2007: Hylands Park, Inggris (38.074 orang)
• Jambore XXII Dunia 2011: Rinkaby, Swedia (40.061 orang)
• Jambore XXIII Dunia 2015: Kirarahama, Jepang

Sejarah Pramuka di Indonesia

Sejarah Pramuka di Indonesia terbilang unik sebab kemunculannya yang diwarnai dengan proses pasang surut dalam berorganisasi. Sangat wajar karena masa-masa awal tumbuhnya gerakan Pramuka di Indonesia adalah pada saat Indonesia masih mengalami proses penjajahan. Oleh karena itu, dalam pembahasan kita  kali ini mengenai sejarah gerakan Pramuka di Indonesia akan kita bagi menjadi tiga masa, yaitu: gerakan pramuka pada masa penjajahan Belanda, Pramuka pada masa penjajahan Jepang, dan gerakan Pramuka setelah Indonesia Merdeka.
Sejarah Pramuka Indonesia masa Penjajahan Belanda

Ternyata, organisasi Pramuka Baden Powell sampai juga gaungnya ke Indonesia. Gerakan kepramukaan ini di bawa oleh Belanda ke Indonesia pada masa kolonial. Didirikanlah oleh Belanda organisasi kepanduan pertama di Indonesia yang diberi nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda). Istilah Padvinders merujuk kepada istilah untuk organisasi Pramuka yang ada di negeri Belanda.

Organisasi kepanduan ini ternyata mendapat perhatian dari para pemimpin gerakan kemerdekaan. Mereka melihat bahwa pendidikan dan pelatihan yang dikenal dalam gerakan kepanduan dapat digunakan untuk membentuk karakter manusia Indonesia. Para tokoh pergerakan tersebut sepakat untuk mendirikan organisasi serupa. Mulailah bermunculan organisasi-organisai kepanduan yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh pergerakan, seperti SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon), JPO (Javaanse Padvinders Organizatie), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), dan JJP (Jong Java Padvindery).

Ternyata, penggunaan istilah Padvindery yang digunakan dalam kelompok-kelompok tersebut mendapat larangan dari Belanda. Namun, para tokoh nasional Indonesia tidak kehabisan akal. Oleh K.H Agus Salim, istilah Padvindery diganti dengan Pandu atau Kepanduan.

Setelah peristiwa Sumpah Pemuda, kesadaran nasional rakyat Indonesia semakin meningkat. Beberapa organisasi kepanduan meleburkan diri menjadi organisasi yang lebih besar. Pada tahun 1930, organisasi PPS (Pandu Pemuda Sumatera), PK (Pandu Kesultanan), dan IPO bergabung menjadi satu membentuk KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Tahun 1931, dibentuklah wadah baru bagi gerakan kepanduan Indonesia yang bernama PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia). Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1938, organisasi ini berubah nama menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia).

Sebagai upaya menggalang rasa persatuan dan kesatuan bangsa, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI berencana untuk melakukan kegiatan All Indonesia Jamboree. Namun, sepertinya rencana tersebut tidak berjalan mulus. Beberapa perubahan harus dilakukan baik dalam hal waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan. Setelah melewati beberapa pertimbangan, kegiatan ini akhirnya dapat terlaksana juga. Disepakati, nama kegiatan diganti dengan PERKINO (Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem) dan diselenggarakan mulai tanggal 29 s/d 23 Juli 1941 di Yogyakarta. Perkemahan inilah yang menjadi cikal bakal pelaksanaan kegiatan Jambore seperti yang sering kita lihat sekarang ini.

Sejarah Pramuka Indonesia masa Penjajahan Jepang

Gerakan Pramuka Indonesia terus bertahan pada masa penjajahan Jepang. Namun, gerakan kepanduan ini mendapat beberapa hambatan. Pada masa Perang Dunia ke-2, tentara Jepang melakukan penyerangan kepada Belanda. Banyak tokoh Kepanduan di Indonesia yang ditarik masuk Keibondan, PETA, dan Seinendan, organisasi bentukan Jepang yang digunakan untuk mendukung tentara Jepang.

Bukan hanya itu, ternyata Jepang melarang berdirinya Partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepanduan. Jepang menganggap, organisasi ini berbahaya karena dapat meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan rakyat jajahan. Namun, upaya itu tidak menyurutkan semangat para tokoh kepanduan Indonesia untuk menyelenggarakan PERKINO II. Belakangan, banyak pandu yang ikut terjun dan saling bahu-membahu dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia mengusir tentara Jepang.

Sejarah Pramuka Indonesia Zaman Kemerdekaan

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dibentuklah organisasi Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Kota Solo. Organisasi ini ditetapkan sebagai satu-satunya wadah kepanduan tempat anggota kepanduan Indonesia bernaung. Penetapan ini dikuatkan juga melalui keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Nomor 93/Bhg.A, tanggal 1 Februari 1947. Namun, seiring berjalannya waktu, tahun 1950 banyak bermunculan organisasi-organisasi kepanduan yang pernah ada pada Perang Dunia ke-2. Oleh sebab itu, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan Nomor 23441/Kab, Tanggal 6 September 1951 yang memungkinkan berdirinya organisasi kepanduan lain selain dari Pandu Rakyat Indonesia.

Menginjak tahun 1961, telah ada sekitar 100 organisasi kepanduan Indonesia. Organisasi tersebut tergabung dalam 3 federasi organisasi yaitu Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO), Persatuan Pandu Puteri Indonesia (POPPINDO), dan Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia (PKPI). Namun, menyikapi kelemahan yang ada, maka ketiga federasi tersebut bergabung menjadi satu membentuk Persatuan Kepanduan Indonesia (PERKINDO).

Diakibatkan adanya kepentingan golongan yang tinggi membuat Perkindo masih lemah. Kelemahan tersebut disadari pula oleh pihak komunis yang ingin menjadikan Perkindo sebagai gerakan Pioner Muda seperti yang ada di negara komunis. Namun, kentalnya semangat Pancasila dalam Perkindo membuat seluruh anggotanya menentang keras keinginan komunis tersebut. Untuk menghalau kepentingan komunis itu, dikeluarkanlah Keppres No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang ditandatangani oleh Ir Juanda yang saat itu menjabat sebagai Pjs Presiden RI karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Jepang.

Lewat Keppres tersebut, pemerintah menetapkan gerakan Pramuka sebagai satu-satunya badan di wilayah Indonesia yang mendapat izin untuk melaksanakan pendidikan kepramukaan, sehingga organisasi lain yang mirip sifatnya dengan gerakan Pramuka dilarang keberadaannya.

Perkembangan Gerakan Pramuka Indonesia

Perkembangan gerakan Pramuka yang pesat sangat ditunjang oleh ketentuan dalam Anggaran Dasar gerakan Pramuka yang mengatur tentang metode pendidikan kepramukaan. Ketentuan tersebut membawa banyak perubahan bagi gerakan Pramuka yakni menjadikan Pramuka lebih kuat secara organisasi dan cepat berkembang dari kota ke desa. Adanya pengaturan yang jelas tentang sistem Majelis Pembimbing yang disiplin dijalankan di tiap tingkatan. Baik itu di tingkat nasional, maupun tingkat Gugus Depan.

Pada tanggal 14 Agustus 1961, secara resmi gerakan Pramuka diperkenalkan ke seluruh rakyat Indonesia. Tidak hanya di Jakarta, namun juga ditempat penting seluruh Indonesia. Di Ibu Kota Jakarta, terdapat apel besar yang diikuti oleh 10.000 anggota Gerakan Pramuka yang dilanjutkan dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta. Peristiwa perkenalan yang terjadi pada tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Pramuka yang setiap tahun diperingati oleh seluruh anggota Gerakan Pramuka se-Indonesia.

Jambore Nasional Indonesia

Jambore Nasional (Jamnas) adalah istilah disematkan pada Pertemuan Pramuka Penggalang se-Indonesia dengan bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan oleh Kwartir Nasional (Kwarnas). Jambore Nasional dilaksanakan setiap 5 tahun sekali dengan peserta yang berasal dari seluruh Kabupaten dan Kota se-Indonesia. Sampai saat ini, kegiatan Jambore Nasional telah 10 kali diadakan.

Berikut ini adalah daftar lengkap Jamnas yang pernah terlaksana:

• Jambore Nasional ke-1 1973: Situ Baru, Jakarta
• Jambore Nasional ke-2 1977: Sibolangit, Sumatera Utara
• Jambore Nasional ke-3 1981: Cibubur, Jakarta
• Jambore Nasional ke-4 1986: Cibubur, Jakarta
• Jambore Nasional ke-5 1991: Cibubur, Jakarta
• Jambore Nasional ke-6 1996: Cibubur, Jakarta
• Jambore Nasional ke-7 2001: Baturaden Jawa Tengah
• Jambore Nasional ke-8 2006: Jatinangor, Jawa Bara
• Jambore Nasional ke-9 2011: Danau teluk gelam Kab. Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan
• Jambore Nasional ke-10 2016: Cibubur, Jakarta.

Sekian uraian tentang Sejarah Pramuka di Dunia dan Indonesia (Lengkap), semoga bermanfaat.

Rabu, 02 Maret 2016

Biografi Si Singamangaraja XI, Pahlawan Legendaris Batak

Siapa yang tidak kenal pahlawan legendaris dari masyarakat batak yang satu ini? Saya akan mengulas habis-habisan biografi yang satu ini Sahabat..

Raja Si Singamangaraja XII lahir di Bakara di tepian danau Toba sebelah Selatan pada tahun 1848. Saat ini Bakara merupakan suatu kecamatan dalam Kabupaten Humbang Hasundutan. Nama kecilnya adalah Patuan Bosar gelar Ompu Pulo Batu. Sebagaimana leluhurnya, gelar Raja dan kepemimpinan selalu diturunkan dari pendahulunya secara turun temurun. Ketika Patuan Bosar dinobatkan menjadi Raja Si Singamangaraja XII pada tahun 1871, waktu itu umurnya baru 22 tahun dalam usia yang masih muda.

Rakyat bertani dan beternak, berburu dan sedikit-sedikit berdagang. Kalau Raja Si Singamangaraja XII mengunjungi suatu negeri semua yang "terbeang" atau ditawan, harus dilepaskan. Sebagaimana dengan Raja Si Singamangaraja I sampai XI, beliau juga merupakan seorang pemimpin yang sangat menentang perbudakan yang memang masih lazim masa itu. Jika beliau pergi ke satu desa (huta), beliau selalu meminta agar penduduk desa tersebut memerdekakan orang yang sedang dipasung karena hutang atau kalah perang, orang-orang yang ditawan yang hendak diperjualbelikan dan diperbudak. Dia seorang pejuang sejati, yang anti penjajahan dan perbudakan. Pejuang yang tidak mau berkompromi dengan penjajah kendati kepadanya ditawarkan menjadi Sultan Batak. Ia memilih lebih baik mati dari pada tunduk pada penjajah. Ia kesatria yang tidak mau mengkhianati bangsa sendiri demi kekuasaan. Ia berjuang sampai akhir hayat.

Perjuangannya untuk memerdekakan ‘manusia bermata hitam’ dari penindasan penjajahan si mata putih (sibontar mata), tidak terbatas pada orang Tapanuli(Batak) saja, tetapi diartikan secara luas dalam rangka nasional. Semua orang yang bermata hitam dianggapnya saudara dan harus dibela dari penjajahan si mata putih (sibontar mata). Dia merasa dekat dengan siapa saja yang tidak melakukan penindasan, tanpa membedakan asal-usul. Maka ia pun mengangkat panglimanya yang berasal dari Aceh.

Perjuangan Raja Si Singamangaraja XII melawan Belanda

Dapat dipadamkannya “Perang Paderi” melapangkan jalan bagi pemerintahan kolonial di Minangkabau dan Tapanuli Selatan. Minangkabau jatuh ke tangan Belanda, menyusul daerah Natal, Mandailing, Barumun, Padang Bolak, Angkola, Sipirok, Pantai Barus dan kawasan Sibolga. Karena itu, sejak tahun 1837, Tanah Batak terpecah menjadi dua bagian, yaitu daerah-daerah yang telah direbut Belanda menjadi daerah Gubernemen yang disebut “Residentie Tapanuli dan Onderhoorigheden”, dengan seorang Residen berkedudukan di Sibolga yang secara administratif tunduk kepada Gubernur Belanda di Padang. Sedangkan bagian Tanah Batak lainnya, yaitu daerah-daerah Silindung, Pahae, Habinsaran, Dairi, Humbang, Toba, Samosir, belum berhasil dikuasai oleh Belanda dan tetap diakui Belanda sebagai Tanah Batak yang merdeka, atau ‘De Onafhankelijke Bataklandan’. Sampai pada tahun 1886, hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai di bawah pimpinan Raja Si Singamangaraja XII yang masih muda.

Sebenarnya berita tentang maksud Belanda untuk menguasai seluruh Sumatera ini sudah diperkirakan oleh kerajaan Batak yang masa itu masih dipimpin oleh Raja Si Singamangaraja XI yaitu Ompu Sohahuaon. Sebagai bukti untuk ini, salah satu putrinya diberi nama Nai Barita Hulanda. Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan tentaranya mendarat di pantai-pantai Aceh. Saat itu Tanah Batak di mana Raja Si Singamangaraja XII berkuasa, masih belum dijajah Belanda. Tetapi ketika 3 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1876, Belanda mengumumkan “Regerings Besluit" tahun 1876 yang menyatakan daerah Silindung/Tarutung dan sekitarnya dimasukkan kepada kekuasaan Belanda dan harus tunduk kepada Residen Belanda di Sibolga, Raja Si Singamangaraja XII cepat mengerti siasat strategi Belanda. Kalau Belanda mulai menguasai Silindung, tentu mereka akan menyusul dengan menganeksasi Humbang, Toba, Samosir, Dairi dan lain-lain.

Raja Si Singamangaraja XII cepat bertindak, Beliau segera mengambil langkah-langkah konsolidasi. Raja-raja Batak lainnya dan pemuka masyarakat dihimpunnya dalam suatu rapat raksasa di Pasar Balige, bulan Juni 1876. Dalam rapat penting dan bersejarah itu diambil tiga keputusan sebagai berikut :

1. Menyatakan perang terhadap Belanda
2. Zending Agama tidak diganggu
3. Menjalin kerjasama Batak dan Aceh untuk sama-sama melawan Belanda.

Terlihat dari peristiwa ini, Raja Si Singamangaraja XII lah yang dengan semangat tinggi, mengumumkan perang terhadap Belanda yang ingin menjajah. Terlihat pula, Raja Si Singamangaraja XII bukan anti agama dan di zamannya, sudah dapat membina azas dan semangat persatuan dengan suku-suku lainnya. Tahun 1877, mulailah perang Batak yang terkenal itu, yang berlangsung 30 tahun lamanya. Dimulai di Bahal Batu, Humbang, berkobar perang yang ganas selama tiga dasawarsa. Belanda mengerahkan pasukan-pasukannya dari Singkil Aceh, menyerang pasukan rakyat semesta yang dipimpin Raja Si Singamangaraja XII. Pasukan Belanda yang datang menyerang ke arah Bakara, markas besar Raja Si Singamangaraja XII di Tangga Batu dan Balige mendapat perlawanan dan berhasil dihambat.

Belanda merobah taktik, pada babak berikutnya ia menyerbu ke kawasan Balige untuk merebut kantong logistik Raja Si Singamangaraja XII di daerah Toba, untuk selanjutnya mengadakan blokade terhadap Bakara. Tahun 1882, hampir seluruh daerah Balige telah dikuasai Belanda, sedangkan Laguboti masih tetap dipertahankan oleh panglima-panglima Raja Si Singamangaraja XII antara lain Panglima Ompu Partahan Bosi Hutapea. Baru setahun kemudian Laguboti jatuh setelah Belanda mengerahkan pasukan satu batalion tentara bersama barisan penembak-penembak meriam.

Tahun 1883, seperti yang sudah dikuatirkan jauh sebelumnya oleh Raja Si Singamangaraja XII, kini giliran Toba dianeksasi Belanda. Namun Belanda tetap merasa penguasaan tanah Batak berjalan lamban. Untuk mempercepat rencana kolonialisasi ini, Belanda menambah pasukan besar yang didatangkan dari Batavia (Jakarta sekarang) yang mendarat di Pantai Sibolga. Juga dikerahkan pasukan dari Padang Sidempuan. Raja Si Singamangaraja XII membalas menyerang Belanda di Balige dari arah Huta Pardede. Pasukan Raja Si Singamangaraja XII juga dikerahkan berupa kekuatan laut dari Danau Toba yang menyertakan pasukan sebanyak 800 orang dengan menggunakan 20 solu bolon. Pertempuran besar pun terjadi.

Pada tahun 1883, Belanda benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dan Raja Si Singamangaraja XII beserta para panglimanya juga bertarung dengan gigih. Tahun itu, di hampir seluruh Tanah Batak pasukan Belanda harus bertahan dari serbuan pasukan-pasukan yang setia kepada perjuangan Raja Si Singamangaraja XII. Namun pada tanggal 12 Agustus 1883, Bakara, tempat Istana dan Markas Besar Raja Si Singamangaraja XII berhasil direbut oleh pasukan Belanda. Raja Si Singamangaraja XII mengundurkan diri ke Dairi bersama keluarganya dan pasukannya yang setia, juga ikut Panglima-panglimanya yang terdiri dari suku Aceh dan lain-lain.Regu pencari jejak dari Afrika, juga didatangkan untuk mencari persembunyian Raja Si Singamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang Senegal. Oleh pasukan Raja Si Singamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki "Si Gurbak Ulu Na Birong". Tetapi pasukan Raja Si Singamangaraja XII pun terus bertarung. Panglima Sarbut Tampubolon menyerang tangsi Belanda di Butar, sedangkan Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan dengan Raja Ompu Babiat Situmorang. Tetapi Raja Si Singamangaraja XII menyerang juga ke Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangarongsang, Huta Paung, Parsingguran dan Pollung. Panglima Raja Si Singamangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap dan tokoh Parmalim yang menjadi Penasehat Khusus Raja Si Singamangaraja XII, Guru Somaling Pardede juga ditawan Belanda. Ini terjadi pada tahun 1889.

Pada awal abad ke 20, Belanda mulai berhasil menguasai Aceh sehingga pada tahun 1890 pasukan khusus Marsose yang tadinya ditempatkan di Aceh, dikerahkan untuk menyerang Raja Si Singamangaraja XII di daerah Parlilitan. Mendapat penyerangan yang tiba-tiba dan menghadapi persenjataan yang lebih modern dari Belanda, akhirnya perlawanan gigih pasukan Raja Si Singamangaraja XII pun terdesak. Dari situlah dia dan keluarga serta pasukannya menyingkir ke Dairi.Raja Si Singamangaraja XII melanjutkan peperangan secara berpindah-pindah di daerah Parlilitan selama kurang lebih 22 tahun, disetiap persinggahaannya Beliau selalu memberikan pembinaan pertanian, adat istiadat(hukum) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga menimbulkan kesetiaan dan dukungan rakyat untuk berjuang. Walaupun banyak di antara penduduk yang mendapat siksaan dan pukulan dengan rotan dan bahkan sampai terbunuh, karena tidak mau bekerja-sama dengan Belanda. Termasuk untuk menunjukkan tempat pasukan dan Raja Si Singamangaraja XII berada.

Pasukan Raja Si Singamangaraja XII di Dairi ini merupakan gabungan dari suku Batak dan suku Aceh. Pasukan ini dipimpin oleh putranya Patuan Nagari. Panglima-panglima dari suku Batak Toba antara lain, Manase Simorangkir dari Silindung, Rior Purba dari Bakara, Aman Tobok Sinaga dari Uruk Sangkalan dan Ama Ransap Tinambunan dari Peabalane. Dari suku Aceh antara lain Teuku Sagala, Teuku Nyak Bantal, Teuku Nyak Ben,Teuku MatSabang, Teuku Nyak Umar, Teuku Nyak Imun, Teuku Idris. Sedangkan dari rakyat Parlilitan antara lain: Pulambak Berutu, Tepi Meha, Cangkan Meha, Pak Botik Meha, Pak Nungkun Tinambunan, Nangkih Tinambunan, Pak Leto Mungkur, Pak Kuso Sihotang, Tarluga Sihombing dan Koras Tamba.

Pasukan Raja Si Singamangaraja XII ini dilatih di suatu gua yang bernama Gua Batu Loting dan Liang Ramba di Simaninggir. Gua ini berupa liang yang terjadi secara alamiah dengan air sungai di bawah tanah. Tinggi gua sekitar20 meter dan mempunyai cabang-cabang yang bertingkat-tingkat. Sirkulasi udara di dalam gua cukup baik karena terbuka ke tigaarah, dua sebagai akses keluar masuk dan satu menuju ke arah air terjun. Jarak dari pintu masuk ke air terjun didalam gua lebih dari 250 meter. Dengan demikian, di dalam gua ini dimungkinkan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari bagi seluruh pasukan yang dilatih tanpa harus keluar dari gua.

Pihak penjajah Belanda juga melakukan upaya pendekatan (diplomasi) dengan menawarkan Raja Si Singamangaraja XII sebagai Sultan Batak, dengan berbagai hak istimewa sebagaimana lazim dilakukan Belanda di daerah lain. Namun Raja Si Singamangaraja XII menolak tawaran tersebut. Sehingga usaha untuk menangkapnya mati atau hidup semakin diaktifkan.

Setelah melalui pengepungan yang ketat selama tiga tahun, akhirnya markasnya diketahui oleh serdadu Belanda. Dalam pengejaran dan pengepungan yang sangat rapi, peristiwa tragis pun terjadi. Dalam satu pertempuran jarak dekat, komandan pasukan Belanda kembali memintanya menyerah danakan dinobatkan menjadi Sultan Batak. Namun pahlawan yang merasa tidak mau tunduk pada penjajah ini lebih memilih lebih baik mati daripada menyerah.

Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade Setan mengepung Raja Si Singamangaraja XII. Pertahanan Raja Si Singamangaraja XII diserang dari tiga jurusan, tetapi Raja Si Singamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Kaum wanita dan anak-anak diungsikan secara berkelompok-kelompok, namun kemudian mereka tertangkap oleh Belanda.Tanggal 17 Juni 1907, di pinggir bukit Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah RajaSi Singamangaraja XII oleh pasukan Marsose Belanda pimpinanKapten Christoffel. Raja Si Singamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. Raja Si Singamangaraja XIIyang kebal peluru tewas kena peluru setelah terpercik darah putrinya Lopian, yang gugur di pangkuannya. Dalam peristiwa ini juga turut gugur banyak pengikut dan beberapa panglimanya termasuk yang berasal dari Aceh, karena mereka juga berprinsip pantang menyerah. Pengikut-pengikutnya yang lain berpencar dan berusaha terus mengadakan perlawanan, sedangkan keluarga Raja Si Singamangaraja XII yang masih hidup dihina dan dinista, dan kemudian ditawan di internering Pearaja Tarutung. Semua mereka merupakan korban perjuangan.Perang yang berlangsung selama 30tahun itu memang telah mengakibatkan korban yang begitu banyak bagi rakyat termasuk keluarga Raja Si Singamangaraja XII sendiri. Walaupun Raja Si Singamangaraja XII telah wafat, tidak berarti secara langsung membuat perang di tanah Batak berakhir, sebab sesudahnya terbukti masih banyak perlawanandilakukan oleh rakyat Tapanuli khususnya pengikut dari Raja Si Singamangaraja XII sendiri. Jenazah Raja Si Singamangaraja XII, Patuan Nagari dan Patuan Anggi dibawa dan dikuburkan Belanda di tangsi Tarutung.

Pada Tahun 1953, Raja Si Singamangaraja XII, Patuan Nagari dan Patuan Anggi dimakamkan kembali di Makam Pahlawan Nasional Soposurung Balige yang dibangun oleh pemerintah, masyarakat dan keluarga. Digelari Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 590 tertanggal 19 Nopember 1961.

Demikianlah, tanpa kenal menyerah, tanpa mau berunding dengan penjajah, tanpa pernah ditawan, gigih, ulet, militan, Raja Si Singamangaraja XII selama tiga dekade, telah berjuang tanpa pamrih dengan semangat dan kecintaannya kepada tanah air dan kepada kemerdekaannya yang tidak bertara. Itulah yang dinamakan “Semangat Juang Raja Si Singamangaraja XII”, yang perlu diwarisi seluruh bangsa Indonesia, terutama generasi muda. Raja Si Singamangaraja XII benar-benar patriot sejati. Beliau tidak bersedia menjual tanah air untuk kesenangan pribadi. Hal ini menumbuhkan semangat persatuan dan kemerdekaan di hati rakyat..

Biografi Jenderal Sudirman

Siapa yang tidak kenal dengan sosok pahlawan yang merupakan jenderal besar dengan yang berjuang maksimal meski dalam keadaan sakit, dikenal sebagai salah satu pahlawan Indonesia, jasa-jasanya sangat dikenang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ialah Jenderal Besar Soedirman menurut Ejaan Soewandi dibaca Sudirman. Ia merupakan salah satu orang yang memperoleh pangkat bintang lima selain Soeharto dan A.H Nasution. Jenderal besar Indonesia ini lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Ayahnya bernama Karsid Kartawiuraji dan ibunya bernama Siyem. Namun ia lebih banyak tinggal bersama pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo setelah diadopsi. Ketika Sudirman pindah ke Cilacap di tahun 1916, ia bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah dan menjadi siswa yang rajin serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi serta ketaatan dalam Islam menjadikan ia dihormati oleh masyarakat. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal.

Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatar belakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Profil dan Biografi Jendral Besar Sudirman

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).
Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.
Sudirman merupakan salah satu pejuang danpemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.
Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer I IBelanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini. Ia memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.
Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.
Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.
Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, ibukota negara RI berada di Yogyakarta sebab kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tinggal satu yang berfungsi.
Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Melakukan Perang Gerilya

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin angkatan perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.
Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ia pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun. Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Berikut Data Lengkap Tentang Jendral Besar Soedirman

*. Pengalaman Pekerjaan : Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap

*. Pengalaman Organisasi : Kepanduan Hizbul Wathan

*. Jabatan di Militer :
- Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal Besar Bintang Lima
- Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
- Komandan Batalyon di Kroya

*. Tanda Penghormatan : Pahlawan Pembela Kemerdekaan

Biografi Pattimura, Pahlawan dari Maluku

Hari ini Saya akan membahas biografi beberapa tokoh pahlawan kita ya Sahabat.

Pastilah semua orang sudah pernah melihat uang kertas nominal 1000 rupiah bukan? Dalam uang kertas tersebut terdapat gambar seorang pahlawan Indonesia yang gugur hanya demi memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Seorang pahlawan yang membawa sebilah pedang yang ia taruh di dadanya. Pahlawan yang sangat gagah dan terlihat tegas itu dikenal dengan Pattimura. Mungkin, namanya sudah sering disebut di pelajaran sejarah. Namun, tak ada salahnya jika mengulas kembali tentangbiografi pattimura agar kita bisa mengetahui pahlawan asal daerah Maluku ini lebih dalam. Simak informasi perjalanan hidup Pahlawan Maluku ini selengkapnya.

Beliau merupakan salah satu pahlawan nasional yang sangat gigih melawan penjajah Belanda. Mengenai profil Pattimura, Beliau memiliki nama asli Thomas Matulessy ada juga yang mengatakan nama aslinya adalah Ahmad Lussy, beliau lahir di Hualoy, Seram Selatan, Maluku pada tanggal 8 Juni 1783. Beliau meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun. Ia adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina Silahoi. Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan". Dari sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, gelar Kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak. Menurut Sejarawan Mansyur Suryanegara, leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti. Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma.Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama,namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarir dalam militer sebagai mantan sersan militer Inggris. Kata "Maluku" berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja. mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan korps Ambon dengan Gubenur. Dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahan dinas militer ini dipaksakan kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817. Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya. Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa.Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dankuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Pattimura bersama para tokoh pejuang lain yang bersamanya akhirnya dapat ditangkap. Pattimura ditangkap oleh pemerintah Kolonial Belanda di sebuah Rumah di daerah Siri Sori. Pattimura kemudian diadili di Pengadilan Kolonial Belanda dengan tuduhan melawan pemerintah Belanda. Pattimura kemudian dijatuhi hukuman gantung, sebelum eksekusinya di tiang gantungan, Belanda ternyata terus membujuk Pattimura agar dapat bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda, namun Pattimura menolaknya. Pattimura kemudian mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal16 Desember 1817 di depan Benteng Victoriadi kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan” oleh pemerintah Republik Indonesia.

Perdebatan Mengenai Nama Asli dari Kapitan Pattimura

Banyak yang mengatakan bahwa Pattimura sebenarnya bernama  Ahmad Lussy yang beragama Islam, tetapi banyak juga yang meyakini bahwa Pattimura lebih dikenal dengan Thomas Mattulessy yang identik Kristen. Inilah yang menjadikan perdebatan sampai sekarang ini. Untuk meluruskan hal tersebut memang perlu dilakukan penelusuran sejarah tentang asal usul Pattimura dengan data-data pendukung berupa penelitian yang berasal dari sumber-sumber yang sifatnya otentik serta faktual.

Ada terdapat sebuah lukisan wajah asli Pattimura yang konon merupakan lukisan dari wajah Kapitan Pattimura ketika ia ditangkap oleh Belanda pada tahun 1817. Lukisan tersebut dibuat oleh Verheul yang merupakan seorang perwira dan penulis asal Belanda. Lukisan tersebut ditemukan di KITLV di Leiden, Belanda. Untuk mengetahui lebih jelasnya, Sahabat dapat membaca buku yang berjudul 'Ini Dia Aslinya Kapitan Pattimura' yang ditulis oleh Luthfi Pattimura dan Kisman Latumakulita sebagai sumber referensi Sahabat sekalian. Potret wajah Pattimura yang biasa dilihat pada pecahan Uang Seribu konon dibuat setelah kemerdekaan. Sebenarnya tidak ada yang mengetahui wajah asli dari Pattimura sebab sangat sedikit sekali dokumentasi mengenai hal tersebut. Lukisan Pattimura yang biasa kita lihat mungkin hanya rekaan berdasarkan imajinasi oleh pelukis sesuai dengan karakter atau tipe orang Maluku. Pattimura pernah berkata :

"(Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) Saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula). Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) Saya dalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya)."

Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Pattimura, pahlawan dari Maluku yang juga merupakan pahlawan nasional. Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung telah terlilit di lehernya. Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Pattimura seorang patriot yang berjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut. Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Kapitan Pattimura juga tampak optimis. Namun keberanian dan patriotisme Pattimura itu terdistorsi oleh penulisan sejarah versi pemerintah. M Sapija, sejarawan yang pertama kali menulis buku tentang Pattimura, mengartikan ucapan di ujung maut itu dengan :

"Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit.”

Namun menurut M Nour Tawainella, juga seorang sejarawan, penafsiran Sapija itu tidak pas karena warna tata bahasa Indonesianya terlalu modern dan berbeda dengan konteks budaya zaman itu. Di bagian lain, Sapija menafsirkan :

"Selamat tinggal saudara-saudara”, atau “Selamat tinggal tuang-tuang”

Inipun disanggah Tawainella. Sebab, ucapan seperti itu bukanlah tipikal Pattimura yang patriotik dan optimis. Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Dan Inilah yang menjadi perdebatan sejarah hingga sekarang ini. Bagaimana menurut Sahabat sendiri??